Kamis, 16 Maret 2017

GMI Gelar Kajian Islam Ramadhan Sepekan Bersama Sinergi Foundation


Bersama Sinergi Foundation, Pengurus Pusat Gerakan Muslimat Indonesia (GMI) menggelar Kajian Islam Ramadhan selama sepekan bertajuk ‘Harmonisasi Keluarga dalam Memperkuat Akidah Umat’ selama 18-24 Juni 2014 bertempat di Ballroom Hotel Savoy Homann Bandung.
Istri Wakil Gubernur Jawa Barat Giselawati dan Ketua Umum PP GMI Ina Wiyandini meresmikan acara ini pada hari perdana, Kamis (18/06.2015). Di hadapan ratusan jama’ah yang memadati acara ini, Ina Wiyandini mengatakan Kajian Sepekan Ramadhan ini diharapkan dapat meningkatkan ketakwaan para jamaah.
“Tujuannya agar bagaimana kita supaya sudah bangga bahwa kita adalah seorang muslim. Kemudian keimanan kita harus menigkat setelah bulan Puasa selesai dengan menjadi seorang mukmin,” kata Ina Wiyandini.
GMI pun menghadirkan banyak tokoh dan ulama selama sepekan kajian di antaranya Ketua MUI Bandung Prof. Dr. KH Miftah Faridl, Ustadzah Mimin Aminah, KH Athian Ali, KH Saiful Islam Mubarak, Ustadz Bobby Herwibowo, Ustadz Fatih Karim, dan masih banyak yang lain. Sementara itu, di hari perdana, kajian ini diisi oleh Drs. Iyan Rahdiana MM, Tengku Maulana SM, Aa Hadi dan Cheche Kirani.
Sinergi Foundation membuka layanan kemudahan melalui Konter Ramadhan di acara tersebut. Mari sempurnakan amaliyah kita dengan ber-WAZIN(Wakaf, Zakat, Infaq, Sedekah) melalui Sinergi Foundation.

Inovasi Program Wakaf Asia Tenggara


Paradigma wakaf di masyarakat harus berubah, yakni wakaf sebenarnya harus produktif, bukan sekadar yang bentuknya sosial. Karena wakaf yang produktif, nilai kemanfaatannya berlipat ganda, tetapi prinsipnya tetap terjaga. Demikian sepenggal latar belakang diinisiasinya program Pemakaman Muslim Firdaus Memorial Park yang diungkapkan, Direktur WakafPro-Sinergi Foundation Asep Irawan.
“Wakaf merupakan salah satu filantropi Islam yang bisa menjadi pilar ekonomi Islam, dan aset utama yang potensinya jauh lebih besar untuk kemashlahatan umat,” terang Asep dalam acara konferensi pers 3rdInternational Islamic Philanthropy, Senin (02/03/2015).
“Pemakaman Muslim Firdaus Memorial Park diluncurkan pada Desember 2013 lalu. Hal ini berangkat dari keterbatasan lahan pemakaman di perkotaan dan tingginya biaya pemakaman, sehingga sangat memberatkan untuk kaum dhuafa, khususnya,” lanjutnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Alhikmah, luas kawasan FMP dari target awal 31 hektar kini yang sudah tercapai sekitar 7 hektar, dan sudah ada 20 orang wakif dan 3 orang kaum dhuafa yang dimakamkan di lahan ini. Pemakaman ini, dipersiapkan untuk wakif, keluarga wakif, dan orang yang tidak mampu. Sampai saat ini sekitar 750 orang sudah menjadi wakif artinya sudah 15% dari target tahun 2014.
Keberadaan Pemakaman FMP ini akan dijadikan kawasan terpadu. Di antaranya terdapat kawasan masjid dan pesantren. Lalu pemberdayaan masyarakat melalui lahan pertanian sekitar 5 hektar, di bidang peternakan yang fokus pada ternak hewan domba dan kambing dengan target menghasilkan 5000 ekor.
Menurut Asep, keberadaan pemakaman muslim FMP ini merupakan aset sosial masyarakat Jawa Barat. Hal ini diharapakan bisa menjadi target visitasi peserta seminar, sebagai salah satu bukti nyata inovasi program filantropi Islam di negeri ini, bahkan di Asia Tenggara. “Yah, kami harapkan program ini dapat menjadi inspirasi model inovasi filantropi Islam di negaranya masing-masing,” tandas Asep.

Ketika MUI Pusat Tinjau Lokasi Firdaus Memorial Park Terkait Rekomendasi Syari


Pengelola (Nazhir) WakafPro 99 – Sinergi Foundation yang diwakili  Asep Irawan (Direktur WakafPro 99), HB Sungkaryo (GM Marketing Communications), Taufiq Hidayat (Public And Media Relation), menerima kunjungan resmi dari Pengurus  Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Jum’at, 10 Juli 2014.
Bertempat di Aula Training Centre WakafPro 99, Jl. Sidomukti 99, Bandung, silaturahim membahas rencana diterbitkanya Surat Rekomendasi Syar’i untuk Program Taman Wakaf Pemakaman Muslim Firdaus Memorial Park.
Selain verifikasi administrative, pihak MUI Pusat yang terdiri dari Wakil Ketua Komisi Fatwa   Prof. Drs. H, H. Nahar Nahrawi, MM dan  Sekretaris Komisi Fatwa, Dr. H.M. Asrorun Ni’am Sholeh, MA, mengagendakan peninjauan lapangan langsung ke lokasi Taman Wakaf Pemakaman Muslim “Firdaus Memorial Park”.
“Selepas kunjungan lapangan, kita akan membawa hasilnya ke sidang Komisi fatwa. Prinsipnya, kami mengapresiasi keberadaan program ini,” kata Asrorun Ni’am Soleh, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat.

Menuju Desa Berdaulat Pangan, Sinergi Foundation Melaunching Program Lumbung Desa


Bicara sawah juga bicara kemiskinan di negeri ini. Mengapa demikian? Data yang dilansir badan pusat statistik tahun 2013,  menyajikan gambaran bahwa jumlah masyarakat miskin di Indonesia sebanyak 28,59 juta jiwa, 37% berada di perkotaan dan 63% di pedesaan. Di jawa Barat jumlah masyarakat miskin sebanyak 4,42 juta jiwa, 61% di perkotaan dan 39% di pedesaan. Peranan komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada garis kemiskinan baik di perkotaan maupun di pedesaan pada umumnya yaitu beras yang memberi sumbangan sebesar 26,92% di perkotaan dan 33,38% di perdesaan.

Kontributor terbesar penduduk miskin selama ini adalah profesi buruh tani dan petani (kecil dan penggarap). Saat ini, jumlah buruh tani sekitar 5 juta orang dan jumlah rumah tangga usaha tani (RUT) diperkirakan mencapai 17,8 juta (15 juta diantaranya adalah rumah tangga usaha tani padi).

Dan kini, 88% petani memiliki lahan rata-rata hanya 0,5 ha. Lahan yang untuk kebutuhan sendiri pun tak cukup. Percayakah Anda bahwa ternyata 80% penghasilan petani untuk kebutuhan sehari-hari ternyata bukan dari pertanian, tapi dari pekerjaan lainnya, semisal tukang ojek atau buruh bangunan. Berkurangnya lahan, menurunnya hasil pertanian, dan sulitnya regenerasi petani pun mengarahkan indonesia dalam kondisi “gawatdarurat”.  Suatu kondisi tragis bagi negara agraris. Kedaulatan pangan terancam, berganti oleh krisis.

Berangkat dari hal itu, muncul gagasan program Lumbung Desa (LD). Sebuah gagasan yang diinisiasi Sinergi Foundation, sebagai upaya mengembalikan desa kepada khittahnya: Desa sebagai sumber pangan Indonesia. Mengangkat harkat dan martabat desa, khususnya para petani.  Dampak luasnya, menciptakan kedaulatan pangan di negeri tercinta. Tentu bukan pekerjaan sehari dua. Diperlukan kerja kolektif, sinergi dari seluruh elemen terkait  untuk mewujudkannya. Berpikir lantas beraksi. Meningkatkan daya saing desa, dengan langkah-langkah akseleratif, tanpa menanggalkan kearifan lokal yang sudah menjadi bagian dari nafas kehidupan.

Lumbung desa. Kultur sederhana, tapi begitu dalam maknanya. Bagaimana masyarakat desa yang kerap disebut sebagai masyarakat terbelakang, justru berpikir jauh ke depan. Kesadaran untuk mengelola karunia Allahu Ta’ala, berupa cadangan hasil panen agar bisa bertahan hingga musim berikutnya, bahkan dapatdigunakan membantu sesama yang membutuhkan, apakah patut disebut pandangan terbelakang?

Ada tindakan preventif, yang mencegah terjadinya krisis pangan sebagai kebutuhan dasar anak manusia di sana. Prinsip keadilan bukan belaka wacana, tatkala tetesan keringat para petani lokal dihargai secara proporsional, bahkan lebih, sehingga mampu meningkatkan taraf kehidupannya. Prinsip kepedulian pun sebuah realita, ketika mereka yang berlebih sudi berbagi dengan yang lemah. Memupus ketamakan, warisan kultur feodal yang menciptakan ‘juragan- juragan’ lokal, kolega kolonial.

Karenanya, setelah pilot project pertama program Lumbung Desa di Desa Kiarasari Kecamatan Compreng, Kabupaten Subang, kini Lumbung Desa hadir di Kampung Cibaeud, Desa Lengkongjaya Kabupaten Tasikmalaya.

Sinergi Foundation Untuk Solidaritas Muslim Rohingya


Terusir dari tanah lahirnya, terapung terkatung-katung di tengah lautan, hingga nyaris tenggelam terdera gelombang lautan. Saudara kita, muslim Rohingya, sebagian di antaranya kini terdampar di Pantai Aceh. Tua, muda, lelaki, wanita, tak punya tempat tinggal, apatah lagi mata pencaharian. 
Hasil assessement tim SinergiForSolidarity #SaveMuslimRohingya, di tempat pengungsian di Pelabuhan Kuala Langsa, Aceh: Total pengungsi berjumlah 667 jiwa.Terdiri dari: Rohingya 256 jiwa (117 jiwa laki-laki, 76 jiwa Perempuan, 63 jiwa anak-anak ).
Selebihnya 421 pengungsi berkewarganegaraan Bangladesh.

Sampai kemarin (17/5/2015) penangganan pengungsi di Kuala Langsa belum memadai. Pengungsi masih kekurangan makanan, pakaian, selimut dan MCK. 

Ayo ulurkan tangan, SinergiForSolidarity #SaveMuslimRohingya

Donasi dapat disalurkan ke Rekening SINERGI FOUNDATION :
Bank Mandiri 130.000.4040435
Bank Mandiri Syariah 700.546.3108
Wassalamua'laikum Wr. Wb.

Informasi dan Layanan Donasi :

Phone : 022 - 6032281/022 - 6120130
Call Center : 0851 0004 2009
WA/SMS Center : 081 321 200 100
Website : http://www.sinergifoundation.org
Email : info@sinergifoundation.org
Twitter : @sinergiID